Evaluation of the Implementation of Law No. 17 of 2008 Concerning Shipping in Relation to National Maritime Security Evaluasi Implementasi Undang-Undang No. 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran Terhadap Keamanan Maritim Nasional
Main Article Content
Abstract
Evaluation of the implementation of Law No. 17 of 2008 on shipping shows the importance of the role of shipping law in maintaining national maritime security and sovereignty. As a strategic archipelagic country, Indonesia needs a shipping system that is safe, efficient, and in line with international law such as SOLAS 1974, UNCLOS 1982, and SUA Convention 1988. Normatively, this law has provided a strong legal basis for ship safety, water surveillance, and maritime law enforcement. However, its implementation is still constrained by coordination between institutions, limited resources, and weak supervision. The nine-dash line case in the North Natuna Sea shows the urgency of consistently applying shipping laws to protect national sovereignty. Institutional strengthening and inter-agency synergies are needed to improve the effectiveness of the implementation of shipping law and build a resilient and competitive maritime system.
Downloads
Article Details
Section

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
How to Cite
References
[1] S. D. Kartika, “Keamanan Maritim Dari Aspek Regulasi Dan Penegakan Hukum”.
[2] R. Erwin, “Tanggung Jawab Negara Untuk Mencegah Terjadinya Kecelakaan Kapal Sebagai Sarana Transportasi Menurut Hukum Internasional Dan Hukum Indonesia,” vol. 4, no. 2.
[3] N. Paikah, “Perlindungan Hukum Terhadap Keselamatan Penumpang Kapal Laut Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran Di Indonesia,” Al-Adalah J. Huk. Dan Polit. Islam, vol. 3, no. 2, hlm. 117–127, Jul 2019, doi: 10.35673/ajmpi.v3i2.194.
[4] A. K. Wardani, “Maritime Security Regulation Concerning International Ship And Port Facility Security Code 2002 And Its Implementation In Indonesia,” Lampung J. Int. Law, vol. 3, no. 1, hlm. 19–28, Mar 2021, doi: 10.25041/lajil.v3i1.1985.
[5] R. Ardila dan A. K. Putra, “Sengketa Wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Studi Kasus Klaim Cina Atas Laut Natuna Utara),” Uti Possidetis J. Int. Law, vol. 1, no. 3, hlm. 358–377, Jun 2021, doi: 10.22437/up.v1i3.10895.
[6] Y. Nurhayati, I. Ifrani, dan M. Y. Said, “Metodologi Normatif Dan Empiris Dalam Perspektif Ilmu Hukum,” J. Penegakan Huk. Indones., vol. 2, no. 1, hlm. 1–20, Jan 2021, doi: 10.51749/jphi.v2i1.14.
[7] M. R. Iswardhana, A. Wibawa, dan H. C. Chotimah, “Strategi Keamanan Laut Pemerintah Indonesia Untuk Menjaga Keamanan Maritim,” 2022.
[8] C. Umam dkk., “Metode Penelitian Kualitatif”.
[9] L. Administratum, “Keselamatan Dan Keamanan Pelayaran Di Laut Menurut Hukum Laut Di Indonesia,” vol. 13, no. 2, 2025.
[10] Y. M. P. Siregar, J. Pieris, dan W. S. Widiarty, “Analisis Yuridis Penerbitan Surat Persetujuan Berlayar oleh Syahbandar Perikanan Berdasarkan Undang Undang Nomor 66 Tahun 2024 Tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran,” 2024.
[11] S. R. Nilasari, A. P. Marzaman, dan R. Kurniasari, “Doktrin Poros Maritim Dunia dan Keamanan di Bidang Maritim Studi Kasus: Perdagangan Narkotika di Jalur ALKI II,” J. Polit. Issues, vol. 6, no. 1, hlm. 20–31, 2024, doi: 10.33019/jpi.v6i1.156.
[12] M. Listiani dan D. Adhaini, “Negara Hukum dan Hak Asasi Manusia di Indonesia,” vol. 2, no. 5, 2025.
[13] K. A. A. Bediona, M. R. F. Herliansyah, H. Nurjaman, dan D. Syarifuddin, “Analisis Teori Perlindungan Hukum Menurut Philipus M Hadjon Dalam Kaitannya Dengan Pemberian Hukuman Kebiri Terhadap Pelaku Kejahatan Seksual”.
[14] Y. Sitepu, J. Pieris, dan W. S. Widiarty, “Tumpang Tindih Kewenangan Aparat Penegak Hukum dalam Pemeriksaan Kapal-Kapal Niaga yang Menghambat Pertumbuhan Perekonomian di Indonesia,” J. Sos. Teknol., vol. 5, no. 6, Jun 2025, doi: 10.59188/jurnalsostech.v5i6.32176.
[15] J. N. Supit, Y. O. Aguw, dan N. L. Lengkong, “Penegakan Hukum Terhadap Keamanan Laut Di Wilayah Perbatasan Menurut Hukum Laut Indonesia”.
[16] P. S. R. Dian Anggi Rahayu1, “Optimalisasi Peran Corporate Social Responsibility (CSR) Terhadap Kebijakan Ekspor Pasir Laut Dengan Prinsip Perlindungan Lingkungan,” Jun 2025, doi: 10.5281/ZENODO.15689233.
[17] E. Kurniawan, S. Borman, dan N. Handayati, “Penegakan Hukum Terhadap Anak Buah Kapal Yang Terlibat Dalam Kejahatan Perompakan Kapal Di Wilayah Laut Indonesia,” vol. 5, no. 05, 2025.
[18] O. L. Larsson dan J. J. Widen, “The European Union as a Maritime Security Provider – The Naval Diplomacy Perspective,” Stud. Confl. Terror., vol. 47, no. 12, hlm. 1724–1746, Des 2024, doi: 10.1080/1057610X.2022.2058863.
[19] M. Simanjuntak, “Penyelesaian Sengketa Batas Laut Antara Indonesia Dengan Negara-Negara Tetangga Ditinjau Dari Konvensi Pbb Tahun 1982 Tentang Hukum Laut (Unclos 1982),” Honeste Vivere, vol. 34, no. 2, hlm. 176–196, Jul 2024, doi: 10.55809/hv.v34i2.341.
[20] N. R. Kapang, “Penetapan Batas Wilayah Laut Zona Ekonomi Eksklusif (Zee) Antar Negara Dalam Perspektif Hukum Internasional,” 2024.
[21] A. B. Prasetyo, B. T. Usodo, dan U. Cahyono, “Pengaruh Peningkatan Deterrence Effect Kapal Selam Terhadap Wilayah Maritim,” J. Ind. Eng., vol. 6, no. 5, 2025.
[22] Maria Phlisia Wulandari Modo, Heryanto Amalo, dan Darius Antonius Kian, “Penerapan Hukum Pidana terhadap Tindak Pidana dalam Pelayanan Angkutan Laut di Pelabuhan Bolok Kupang ditinjau dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran,” Eksekusi J. Ilmu Huk. Dan Adm. Negara, vol. 2, no. 2, hlm. 46–63, Mar 2024, doi: 10.55606/eksekusi.v2i2.1075.
[23] A. M. Ridha, M. Heri, dan B. T. Setiaji, “Urgensi Penyatuan Lembaga Penegak Hukum di Laut Indonesia,” Leg. J. Huk., vol. 16, no. 1, hlm. 1, Jul 2024, doi: 10.33087/legalitas.v16i1.556.